Kamis, 19 Mei 2011

DARI MADING KE KORAN


Oleh: EM Yogiswara


Koran, ruang imaji bagi siswa
Dari majalah dinding (Mading) masuk ke wilayah koran (media cetak). Tentu tak masuk akal. Namun konsep sederhana yang diterapkan Harian Pagi Jambi Ekspres (salah satu group Jawa Pos di Jambi), ternyata membuahkan hasil yang terbilang luar biasa. Bahkan, sudah hampir masuk usia tiga tahun setiap hari halaman ‘Jambi Cerdas’ ini –halaman yang memang diperuntukan dan dikhususkan bagi siswa se Provinsi Jambi, karya-karya siswa menghiasi hari-hari para pembaca di Provinsi Jambi, khususnya.
      Lalu kenapa Jambi Ekspres berkenan membuat ruang bagi para penulis muda ini di Jambi? Alasan yang paling sederhana adalah Harian Pagi Jambi Ekspres berkeinginan mengakomodir tulisan-tulisan siswa (terlebih tulisan-tulisan cerpen dan puisi) yang dirasa belum memiliki wadah yang lebih luas dan dibaca oleh masyarakat di luar sekolah.
      Alasan kedua adalah ingin menjalankan pandangan dan pemikiran dari Horatius --meskipun memiliki spesifikasi yang berbeda, yakni di dalam karya sastra tetap mengandung dua unsur, yakni dulce et utile (nikmat dan manfaat). Asas manfaat lebih dikhususnya dalam sastra dan tulisan-tulisan lainnya. Persoalan-persoalan inilah yang terus menerus dipertanyakan.
Namun saya akan membicarakan dari sisi manfaat bagi siswa. Masalahnya, kalau persoalan asas manfaat ini dipertanyakan kepada siswa, tentu mereka (siswa yang masuk dalam team Jambi Cerdas maupun di luar team yang karyanya pernah masuk di halaman Jambi Cerdas Harian Pagi Jambi Ekspres), akan kompak menjawab sangatttt bermanfaattttt….!!!!
      Sengaja atau tidak, dari secuil konsep sederhana ini, beberapa sekolah telah menyambut kegiatan ini dengan positif, dan membentuk kegiatan Majalah Dinding pindah ke Koran masuk dalam kegiatan ekstra kurikuler di sekolah. Bahkan, sekolah yang memiliki guru yang tergerak dalam kegiatan tulis menulis, membentuk kelompok sastra di sekolah. SMA Negeri 6 Jambi misalnya. Lewat arahan dan asuhan serta binaan Bapak Helmy Bakar SPd dan guru-guru Bahasa Indonesia lainnya, membentuk kegiatan sastra yang mereka namakan ‘Gemar Menulis’ (Gelis).
      Kelompok Gelis ini, telah melahirkan penulis cerpen dan puisi, seperti, Tri Winda, Rahayu Suseno, Ariska Puspita, Aulia Aisa, Erika, Kemala Marlita, Maharyadi, Sumihar, Kristiana, Dwi Septyanda, Aji Pangestuti, Eka Fitri Dianti, Lysa Lucia, Eka Maya Kurniasih, Fikriyah, Fitri Novita Sari, Henyanti, Karina Imelda, Sri Wahyuni, Rita Tampubolon, Yuliana Afifah, Wajidun Niam.
      Di SMA Negeri 4 Jambi, ada Ibu Samiarti SPd dan Ibu Zeni SPd yang menautkan siswanya dalam kelompok gemar membaca –yang akhir-akhir ini kelompoknya berubah menjadi Gemar Membaca dan Menulis. Dari kelompok ini terlahir nama-nama penulis seperti Hanifa, Ida Gloria Marlina, Lita Chyntia Indri, Mira Serma Teti, Naomi Sepnina, Norita Indriyani, Novi Arliani, Nur Aviva, Putri Sri Nurita, Selvia Meriyanti, Turino Adi Irawan, Fauzi Mi’razki, Winda, Atini, Enni Gusnida, RA Leyly Maghfirah.
      Di SMA Negeri 8 ada Kelompok Penulisan Kreatif (KPK) yang diasuh oleh Ibu Nila Sari SPd dan Pak Yusuf SPd. Meski baru bergabung dalam team di Jambi Cerdas, diyakini siswa-siswi ini akan terus melahirkan karya. Nama-nama yang sering mengirimkan karya cerpen dan puisi, diantaranya, Febrina, Ari Cahyani, Bayu, Marlina, Oky, Risda Ervina, Septi Dwi Anna, Supriani, Tika Wulandari, Yanda, Yeyen.   
      Di MAN Muaro Bungo ada Ibu Ferlie Monthana SPd MPd yang mengasuh siswanya. Lahir penulis cerpen yakni Wulandari. Selain menulis, kegiatan sanggar mereka lebih difokuskan pada musikalisasi puisi.
      Khusus SMA Negeri 3, lewat binaan Bapak Suardiman Malay SPd MPd dibantu oleh penggiat sastra di Jambi, kelompok sastra ini umurnya lebih tua, yakni sejak tahun 1999 sudah membentuk Sanggar Sastra Siswa dan melahirkan penulis-penulis muda.    
Sebelum bergabung dan terakomodir di Jambi Ekspres (2007), para siswanya sudah mengisi ruang sastra di majalah dan Koran di Jambi maupun di luar Jambi. Nama-nama alumni dan siswa SMAN 3 Jambi yang senantiasa bergulat di dunia sastra, misalnya, Gita Romadhona, Catur Agus Riyanto, Gema Mawardi, Sonya, Ceria Mawardi, Arfa Nesyah, Yopi, Marissa Thea Della, Utami Ramadhanti, Irna Christiani, Nur Adicty Mandarini, Desyana, Ezwan, Aprilyana DU, Gaung Gayatri, Nazlia Larashita, Annita Menrawati.
      Sedangkan sekolah yang ‘belum’ membentuk kelompok penulis sekolah, atau sanggar sastra sekolah, atau ekstra kurikuler (sastra), namun mereka tetap berpeluang mengisi halaman Jambi Cerdas diantaranya adalah SMAN 1 Kota Jambi, SMAN 2 Kota Jambi, SMAN 5 Kota Jambi, SMAN Xaverius 1 dan 2 Kota Jambi, MAN Model Jambi, SMAN Titian Teras Jambi, SMA Ferdy Ferry Putra dan SMK Revany Indra Putra Jambi, SMK 2 Kota Jambi, SMA 1 Batanghari, SMAN 6 Batanghari, SMAN 2 Bungo.
      Siswa-siswi ini masuk dalam team dan karya mereka layak dimasukan dalam jajaran sering menulis cerpen dan puisi, antara lain  SMAN 1 Kota Jambi telah melahirkan penulis cerpen dan puisi seperti Linda Handayani, Chitra Karina Dewi, Rahma Dwi Cahyani, Restituta Riska Wulandari, dan Rudini (dalam penuisan cerpen Rdini ini, sering menggunakan nama samaran, yakni Rudi Pralaya).
      Di SMAN 2 Kota Jambi, ada Ariesa Cahaya, Fitri Yulita, Reza Risky, Nopra Suciasih, Bunga, Astika Andriana, Ayu Sya’bani, Hidayati, Leila Fajriani, Salmyati Anggraeni.
Di SMAN 5 Kota Jambi ada Punja Al Afin, Meylin Sylviani, Indah Shofiyah, Ratno Bahar Yudi, Rizky Gustian Utama, Desiyana Mutia, Putri, Andhary, Bayu Setiawan, Deni Kurniawan, Amelia.      
Di SMA Titian Teras Jambi baru tercatat Raras Arum Utami, Embun Ryana Putri, Hesty Dwi Utari, Reni, Wendra, Retno Octaviani, Esti Dina. Dan diyakini SMA ini masih menyimpan ‘segudang siswa’ potensi untuk menulis cerpen dan puisi
      Di SMA Xaverius 1 Jambi hanya ada Ike Meisiana. Hal ini dikarenakan SMA Xaverius 1 dan 2 Jambi hanya terfokus dalam penulisan rubric pengalaman dan Moment Skul.    
      Di SMA Ferdy Fery Putra Jambi, ada Yulita Amelias, Roro, Syahara, dan Rahman. Di SMK Revany Indra Putra ada Liliswati, Andhika BS, Enni Asmira, Handiandra, Mei Sulistya, Suharyakso.
      MAN Model Jambi, ada penuis cerpen dan puisi seperti Mawaddah, Hernawati, Lestari, Qomariah, Siti Mardiah, Tica, Enip S Sulistyani, Rika Rahim, Rika Dewi Lestari, Lina Meylinda,  Deri Trania Sawitri, Hapshah, Nurul Qodria Safitri, Ridla Tesma AM.
      SMA 6 Batanghari ada Harira, Mustika, Rindu Andani, Octariani, Siska Maya Sari, Lilik Hayati, Elisa. SMAN 1 Rantau Rasau hanya da satu penulis cerpen, yakni Dian Ariyani. Hal yang sama juga terjadi di SMA 1 Batanghari, yakni hanya ada Levi. Dan SMAN 2 Bungo belum ada penulis cerpen dan puisi, padahal di SMAN 2 Bungo ada Ibu Vivin Novianti SPd yang suka menulis. Alasan sederhana belum diketahui adanya penulis dari siswa, dikarenakan mereka baru sekali bergabung di Jambi Cerdas Harian Pagi Jambi Ekspres, dan seterusnya menghilang.
      Namun saya yakin, selain sekolah yang disebutkan di atas, masih ada penulis-penulis muda yang memiliki talenta dan masih tersembunyi dan hanya sesekali memiliki kesempatan terbit di Jambi Cerdas. Misalnya, ada kiriman dari penulis Bella Moulina (SMA 4 Jambi, kini mahasiswa FKIP Universitas Jambi), Diana A dan Risa Anisa (SMA PGRI 2 Jambi), Denny Mustika (SMA 2 Sarolangun), Gina Restisia (SMP 11 Jambi), Indria N (SMP 5 Batanghari), Mardiatul Ulia (SMAN 10 Tebo), Melinda Widya Wati (SMP Jujun Kerinci). Anna Yunita (Singkut Sarolangun), Nurul Eka Putri (SMP 7 Jambi), Risky (SMAN 10 Jambi), dan lain lain.



Asas Manfaat
      Sekali lagi, pembicaraan ini lebih difokuskan pada asas manfaat terhadap siswa atas sumbangsih karya-karya mereka yang diterbitkan di Harian Pagi Jambi Ekspres. Asas manfaat yang pertama adalah bahwa karya-karya siswa hadir dan dibaca siswa kebanyakan dan masyarakat. Kedua, ekspresi, ide dan gagasan siswa terpenuhi. Ketiga, siswa terlatih untuk menulis cepat, padat, singkat dan sistematis, serta terlatih menulis cerpen dan puisi. Keempat, (barangkali) dikenal pembaca dan masyarakat. Keenam, karya sastra siswa (sedikit) dapat sagu hati.
Lantas kenapa siswa? Alasannya, karena siswa yang memegang peran penting atas berjalannya kegiatan sastra di sekolah dan seterusnya terekspose dalam media.
Karenanya, besar harapan saya agar sekolah yang merupakan lembaga resmi yang dibentuk oleh pemerintah maupun yayasan untuk melakukan proses pendidikan dan pengajaran memiliki fungsi strategis dalam pembinaan sastra (sanggar/ kelompok penulis).
Selain memediasi praktisi sastra dan/ atau sastrawan dengan siswa, sekolah juga mengorganisasikan siswa pecinta sastra untuk berkreatifitas dalam sebuah sanggar/ kelompok penulis (sastra khususnya). Pelaksanaan terhadap fungsi tersebut, selain membantu guru Bahasa Indonesia memberikan pengetahuan kesastraan terhadap siswa, sekolah juga telah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan dirinya dalam dunia sastra di media masa –dan tidak hanya berkutat di Majalah Dinding saja yang sifatnya terbatas.
Dengan demikian, pemasyarakatan sastra terhadap generasi muda akan lebih mudah dilakukan, dan tulisan sebagai salah satu media terbaik untuk merekam peristiwa, hadir di tengah masyarakat dan baca banyak orang. Ingat! Setiap siswa memiliki kemampuan untuk mengapresiasi realitas, tetapi tidak setiap siswa mampu untuk mengimplementasikan apresiasi tersebut melalui tulisan.
Bagian inilah yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa yang tergabung ke dalam sanggar/ kelompok penulisan. Dengan program-program positif yang disusun oleh anggota, diharapkan siswa mampu memproduksi karya-karya (sastra) yang baik, karya yang merupakan hasil dari apresiasi, kontemplasi, dan imajinasi siswa secara mandiri.
Uniknya, masih ada sekolah yang ‘masih memicingkan sebelah mata’ akan keberadaan dan kegiatan sanggar/ kelompok penulisan kreatif ini. Padahal, kalau disimak lebih mendalam, kegiatan siswa ini merupakan ‘salah satu’ upaya mengangkat nama sekolah --dan tentunya nama-nama siswa yang karya masuk dalam media cetak ini.
Ada dua alasan kenapa sanggar/ kelompok ini tidak terbentuk di sekolah. Salah satunya sudah saya disebutkan tadi, yakni kurangnya perhatian serius dari sekolah. Kedua akibat kebingunan dari siswa yang tidak ‘diladeni’ secara positif oleh pihak sekolah, padahal mereka memiliki keinginan yang kuat untuk membentuk sanggar dan kelompok yang seterusnya menjadi team penulis di media. Imbasnya, mereka (dengan segala kreativitas penulisan) terbiarkan berlalu bersama angan-angan mereka sendiri.
Jika kondisi ini terus menerus terpelihara dengan baik, niscaya kreativitas siswa dengan sendiri terbunuh. Ughhhh!!!
Jika kita tanyakan pada pihak pengambil kebijakan di sekolah (maksudnya, kepsek dan guru) yang sudah membentuk dan memprogramkan sanggar/ kelompok penulisan kreatif, mereka akan bilang; Asal kegiatan ini positif dan bisa mengangkat (mengharumkan) nama sekolah dan tidak menjelek-jelekan sekolah, kita menyambut gembira. Pada prinsipnya kegiatan sanggar/ kelompokl sastra di sekolah, sama dengan keberadaan program-program kreatif lainnya yang ada di sekolah seperti pramuka dan sispala.’’
Dengan kata lain, hal yang utama dari pembentukan ini adalah kemauan yang kuat dari pembuat kebijakan di sekolah termasuk guru Bahasa Indonesia. Siswa merupakan pihak yang perlu didorong, semangati, dibina, disuport  dan seterusnya karyanya ditawarkan ke media yang senantiasa siap menampung.
Jika sudah terbit di Jambi Cerdas, (sebagaimana yang dilakukan oleh SMAN 6 Jambi –dengan kelompok Gelis-nya) antara anggota (siswa) akan membahas karya teman yang masuk keluar di media maupun yang belum dibantu oleh guru Bahasa Indonesia-nya. Untuk diketahui, jika ada waktu, pembahasan materi sastra, tidak hanya berkutat pada karya siswa, tapi karya-karya para cerpenis, novelis dan penyair pun menjadi santapan diskusi interen mereka. Ini dilakukan untuk studi banding dan membandingkan hasil karya siswa dengan karya sastrawan yang sudah mapan.
Untuk pengembangannya, pihak sekolah juga dapat bekerja sama dengan pihak dari luar sekolah seperti sastrawan, sebagaimana yang dilakukan oleh SMA 1 Batanghari dan SMA Titian Teras, SMAN 3 Jambi dengan memanggil (berdialog) antara para sastrawan Jambi dengan siswa. Bahkan, SMA 4 Jambi dan MAN Bungo pernah mendatangkan Fredie Asri (dedengkot musikalisasi Indonesia) dan maestro cerpenis Indonesia, Hamsad Rangkuti, atas bantuan Kantor Bahasa Provinsi Jambi.
Dialog antar siswa dengan para penggiat sastra ini, tiada lain untuk mengasah kepekaan, memperkaya daya spiritual, kemampuan para siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar -- yang fungsinya tidak hanya melulu sebagai alat komunikasi, tetapi juga alat berekspresi.
      Mengutip pandangan penyair Taufiq Ismail; ‘’Bertemunya para sastrawan dengan siswa (berdialog), berdasar pada apa yang saya alami selama ini, ternyata bukan hanya bertanya tentang apa dan bagaimana menulis karya sastra. Akan tetapi bertanya pula tentang lainnya, yang erat dengan kehidupan di seputar dirinya,’’ ujar Taufiq Ismail yang berencana membuat Rumah Puisi di nagari Aie Angek Kabupaten Tanah Datar, di Kaki Gunung Singgalang dan Merapi, Sumatera Barat.
      Selain berdialog dengan sastrawan, berdiskusi dengan sesama teman, ternyata yang paling penting dari semua itu adalah adanya keberanian siswa untuk menghantarkan karya-karya mereka ke media sebagai wadah ekspresi dan menjadi Orientasi Baru Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia’.
      Sekali lagi, berekspresi yang dimaksud, tentunya bukan hanya sebatas menulis karya sastra semata-mata. Tetapi juga mampu mengungkapkan seluruh gagasan kreatifnya dalam hal menulis karya ilmiah dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Di samping itu perlunya karya sastra dibaca, karena ia; baik langsung maupun tidak langsung mampu membuka wawasan pembacanya ke sebuah lapangan nilai-nilai, yang boleh jadi selama ini belum diketahuinya masyarakat dan siswa lainnya.

Bermimpi
Dari Majalah Dinding ke Koran, memang tidak gampang. Kata mereka yang gamang dan belum pernah mencobanya untuk menganjurkan siswa melemparkan karya siswa di koran. Tak apa lah.
Yang penting, saya percaya, menghidupkan kembali Majalah Dinding memang diperlukan, karena dari Majalah Dinding karya-karya siswa bermunculan. Namun itu hanya terbatas untuk kalangan siswa di sekolah yang memang menggiatkan Majalah Dinding. Kalau Majalah Dinding di sekolah tidak ada. Apa yang mau ditawarkan oleh siswa yang senang menulis? Bengong?
Karenanya, saran saya adalah bergegaslah sekolah membentuk sanggar/ kelompok/ team untuk bergabung pada media cetak atau menghimbau dan menyarankan siswa agar melayangkan karya sastra-nya ke media cetak. Mumpung masih muda!
Dari catatan saya dari tahun 2007 hingga sekarang, karya-karya sastra (cerpen dan puisi) siswa di file computer kantor saya, sudah ‘menumpuk’.
Karena terus menerus memikirkan karya-karya sastra yang menumpuk itu, saya pun menjadi kelelahan dan tertidur. Di dalam tidur, tiba-tiba saya bermimpi. Dalam mimpi yang tiada berwarna itu, saya menjelma menjadi kepala sekolah, kepala dinas (yang ngurusin pendidikan), walikota, gubernur, yang dengan bijak mengintruksikan agar karya-karya sastra yang ‘sudah menumpuk’ itu, disatukan dan dijadikan dicetak menjadi ‘buku’ kumpulan, himpunan maupun berupa antologi.
Blassssssss….!!!
Aku terbangun: Jangankan keinginan membuat buku kumpulan, himpunan dan antologi siswa serta upaya membuat kondisi agar minat baca dan menulis siswa meningkat, perpustakaan saja masih perlu dibenahi dan diisi dengan buku-buku sastra yang baru --karena buku-buku sastra di perpustakaan masih saja sepi dan itu-itu saja.
Beruntunglah siswa yang memiliki guru dan kepala sekolah yang peduli dengan kegiatan menulis siswa di media cetak.***
Jambi, Akhir April 2009

 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperlukan untuk panitia Seminar Nasional 2009
Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia
FKIP Universitas Jambi
================================================================================


Curriculum Vitae

em yogiswaraEM Yogiswara. Alumnus PBS-FKIP Universitas Jambi tahun 1992 ini, lahir dan dibesarkan di Jambi. Puisi-puisi tunggalnya, antara lain, Hidup (1991), Kau Lahir (1992), Perempuanku (1992), Gaung (1994) dan Soco (Bentang Budaya Yogyakarta, 2001).
Selain menulis puisi, sesekali menulis cerpen, dan ikut pameran lukis bersama pada event daerah dan nasional. Mendirikan Teater Art in Revolt (AiR) Jambi tahun 2000. Kerap menyutradarai pergelaran teater.
Saat ini menjadi salah seorang redaktur di Harian Pagi Jambi Ekspres (Jawa Pos Group) ini.